Tren Menjadi Korban - Mark Manson #ReviewBuku
Review Buku: Seni Bersikap Bodo Amat
#TrenMenjadiKorban
Membaca adalah salah satu hobi saya untuk sekedar spend waktu sehari hari. Kebiasaan membaca bagi saya adalah kegiatan yang produktif dibanding sekedar bermain game ataupun menonton drama di netflix (pengalaman buruk saya dahulu).
Membaca membuat kita mampu berkaca dan merefleksikan diri lebih dalam tentang bagaimana diri kita. Singkatnya, dengan membaca kita mampu memahami siapa diri kita dan bagaimana diri kita. Mengapa demikian? Karna pada proses membaca terkadang banyak pandangan pandangan orang lain yang mampu mengoreksi dan menyempurnakan pandangan kita yang belum sempurna.
Maka tidak heran orang orang yang toleran dan memiliki kedalaman berpikir dalam menganalisa masalah adalah mereka yang telah banyak menghabiskan waktunya dengan membaca. Sedangkan orang orang yang arogan, berotak batu, dan cenderung intoleran adalah mereka yang kurang membaca. Sehingga dalam menganalisis masalah mereka cenderung terburu buru dan lebih memilih menggunakan jalan instan bahkan kekerasan dalam penyelesaiannya.
Dewasa ini saya telah menghabiskan bacaan buku bagus yang berjudul “Seni Bersikap Bodo Amat” karangan Mark Manson. Buku ini telah menjadi primadona para books reader dunia. Dengan mendapatkannya gelar best seller dunia membuat saya cukup tertarik saat pertama kali melihat buku ini di rak toko buku langganan saya.
Di blog ini saya sebagai penulis akan sedikit mereview tentang poin poin menarik yang disuguhkan oleh buku ini. Buku dengan judul menggelitik ini lebih banyak menyajikan ilmu ilmu psikologi tentang bagaimana kita bersikap menghadapi era digital baik di dunia nyata ata di dunia maya.
Salah satu yang dikeluhkan Mark dalam buku ini adalah tentang problematika masyarakat modern yang salah dalam menyikapi sosial media. Beberapa diantaranya adalah Tren Menjadi Korban.
Dalam berselancar di dunia maya tidak sedikit kita melihat beberapa permasalahan seseorang yang sering diunggah di timeline sosial media, entah diupload dalam durasi singkat (story, snapgram) atau pun dipublish dalam durasi non-temporer (postingan).
Sayangnya, salah satu efek samping dari internet dan media sosial adalah semakin mudahnya, dibandingkan masa-masa sebelumnya, melemparkan tanggun jawab—bahkan mengenai pelanggaran kecil—kepada kelompok atau orang lain. Faktanya, permainan menyalahkan/mempermalukan di lingkup publik ini telah menjadi populer;dalam kalangan tertentu ini bahkan dipandang sebagai sesuatu yang “keren”. Menyebarkan “ketidakadilan” kepada publik memanen perhatian dan emosi yang jauh lebih banyak dan menarik ketimbang sebagian besar peristiwa lain di media sosial, serta mampu memberikan imbalan berupa perhatian dan simpati yang berlimpah ruah, kepada orang-orang yang mampu secara terus menerus merasa menjadi korban.
Beberapa orang merasa dengan mengunggah permasalahannya di sosial media akan membuat dirinya semakin lega karena pasti akan mendapatkankan perhatian lebih dari masyarakat dunia maya atau biasa disebut netizen. Pembelaan netizen yang menyerang pihak yang dianggap tersangka dirasa akan menyelesaikan permasalahan lebih cepat. Padahal pada kenyataannya tidak banyak dari mereka yang paham benar bagaimana asal usul permasalahan dan alur ceritanya.
Dewasa ini, siapa pun yang merasa diserang tentang apa pun— entah bahwa faktanya buku tentang rasisme diberikan di bangku kuliah, atau bahwa pohon Natal dilarang dipajang di mal setempat, atau fakta bahwa pajak dinaikkan setengah persen untuk dana investasi—merasa seakan-akan mereka sedang ditekan dengan cara sedemikian rupa, dan karena itu berhak meluapkan amarah mereka, dan untuk mendapatkan sejumlah perhatian tertentu.
Iklim media saat ini secara bersamaan mendorong sekaligus melanggengkan reaksi semacam ini karena dianggap menguntungkan untuk bisnis. Penulis dan komentator media Ryan Holiday menyebut hal ini sebagai “pornografi kemarahan”: ketimbang melaporkan kisah dan masalah yang sesungguhnyq, media tahu bahwa yang bersifat sedikit menyerang suatu pihak, menyebarkan kepada audiens luas, menciptakan kemarahan, dan kemudian menyiarkan kembali kemarahan itu ke seluruh populasi lainnya. Ini memicu semacam omong kosong memantul bolak balik di antara dua sisi imajiner, dan di saat yang bersamaan mengalihkan setiap orang dari masalah sosial yang sebenarnya. Tidak memberatkan kita semakin terpolarisasi secara politik dibanding sebelum-sebelumnya.
Masalah terbesar dari “Tren Menjadi Korban” adalah bahwa ini semakin menjauhkan perhatian kita dari korban yang sesungguhnya. Ini seperti bocah laki-laki yang menirukan lolongan serigala. Semakin banyak orang yang menyatakan dirinya korban atas suatu pelanggaran kecil, akan semakin sulit untuk melihat siapa korban yang sebenarnya.
Mungkin itulah sedikit pemikiran saya terkait bedah buku orange ini. Semoga dapat mencerahkan para pembaca sekaligus mampu memberi insight terbaik tentang bagaimana kita seharusnya bersikap atas berbagai problematika di era digital seperti sekarang.

Komentar
Posting Komentar