Pembunuhan Mental Di Negeri Via Vallen
Pembunuhan Mental di Negeri Via Vallen
Pasca atau pra kemerdekaan selalu dimeriahkan dengan acara perlombaan di tengah euphoria ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Acara dalam bahasa kultural biasa disebut dengan “agustusan”.
Acara agustusan selalu menjadi ajang yang menarik perhatian anak-anak untuk mengikuti berbagai macam perlombaan guna menunjukkan eksistensi dan kreatifitas mereka.
Sebagai penulis, saya pun termasuk bagian yang paling gemar untuk berpartisipasi dalam perlombaan tahunan saat acara agustusan. Di desa saya sendiri yaitu desa Beji, kecamatan Boyolangu, kabupaten Tulungagung, digelar berbagai perlombaan kecil-kecilan untuk para budiman dan budigirl yang ingin berpartisipasi meramaikan acara agustusan. Mulai dari lomba untuk anak muda maupun orang tua digelar untuk memeriahkan ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Baik lomba bersifat olahraga, permainan, ataupun karya sastra, telah disiapkan dengan matang oleh panitia.
Di sela kegiatan saya menonton perlomban, ada kejadian yang menurut khalayak umum memalukan namun tidak bagi saya. Ada seorang anak kecil yang mengalami nervous di atas panggung yang membuatnya terhenti dan ngeblank ketika lupa akan teks puisi yang dibawakannya. Dia hanya diam dan cengengesan ketika banyak penonton yang menyoraki dan mempermalukannya. Saya melihat di sekitar panggung tidak ada satupun manusia yang mencoba mensupportnya. Yang ada hanya tertawa, dan menunjuk nunjuk seolah yang di panggung adalah tersangka kasus pidana. Si anak sontak merasa tertekan dan semakin menjadi jadi demam panggungnya. Hingga pada akhirnya keluar air mata dan menangis menahan malu atas kesalahannya. Saya pribadi merasa kasihan, tapi memang beginilah mental masyarakat +62 yang masih menjadi problematika.
Dalam case ini yang bikin saya sedikit terkoyak adalah ini ada seorang anak kecil yang minim pengalaman dan ga sengaja buat kesalahan, sehingga penonton yang bukannya memberikan semangat ataupun dukungan, namun justru mentertawakan anak dengan maksud yang saya sendiri tidak tahu.
Hal ini sangatlah tidak baik bagi perkembangan psikis anak ke depan. Karena bagaimanapun kesalahan seorang anak kecil adalah wajar dan juga perlu adanya toleransi serta dukungan agar dirinya tetap merasa percaya diri dan juga tidak merasa terpojokkan.
Menurut Elly Risman, psikolog ternama. “Perilaku intimidatif terhadap seorang anak mampu mempengaruhi mindset dan psikis mereka dalam bertumbuh. Untuk sekedar pulih dari keterpurukannya memang tidak lama. Rentang waktunya 3-4 tahun. Namun menghilangkan traumatik dalam ingatannya membutuhkan waktu seumur hidup. Apalagi jika tidak ada pengarahan dan motivasi yang baik dari orang tua. Tentu itu akan memperlama proses pemulihannya. Sehingga anak menjadi mudah minder dan sulit untuk diajak produktif/berkarya. Karna mindset mereka menjadi mudah takut. Takut salah dalam berkarya. Karena mereka akan mengingat konsekuensinya bakal ditertawakan dan dipojokkan”.
Bagi penulis, budaya saling support satu sama lain dan penghargaan tinggi terhadap kemauan anak yang mau menunjukkan bakatnya di depan umum baiknya kita jaga keberaniannya sebagai generasi penerus peradaban bangsa.
Jangan sampai kita justru menanamkan kepada mereka mental para pengecut, yang hanya bisa mentertawakan kesalahan orang lain tanpa mampu menunjukkan karyanya.
Jika hal seperti itu terus diterapkan sama halnya kita sebagai orang dewasa telah membunuh karakter dan juga mental anak tersebut. Sehingga menjadikan mereka takut untuk berkarya.
Padahal bangsa ini sangat membutuhkan calon penerus yang memiliki keberanian berkreasi dan berinovasi dalam karya nyata. Bukan mereka yang hanya mampu mecibir dan tertawa.
Sebagai generasi terpelajar kita harus mampu berbuat yang terbaik dan adil untuk mereka. Seperti kata Pram, “seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan”. Artinya, seorang terpelajar tidak boleh berbuat pilih kasih dengan siapapun. Karena sejatinya setiap warga negara memiliki hak untuk berkembang dan bertumbuh tanpa sikap intimidatif dari siapapun.
Kaum berpendidikan sudah seharusnya terus berupaya mendorong mental anak muda untuk terus bertumbuh dan tidak mudah jatuh. Dan membiarkan budaya salah dalam berkarya juga tidak bisa dibiarkan. Tentu nasehat dan arahan perlahan lebih mereka butuhkan. Dibanding cibiran atau tawaan. Ditambah lagi, toleransi dan dukungan sangat diperlukan bagi mereka dalam berkreasi ataupun berkarya untuk kemajuannya sendiri dalam berkembang.

Komentar
Posting Komentar