The Art of Delivery - Jangan Menjadi Orang Lain
Akhir-akhir ini gw banyak melihat beberapa teman-teman circle gw yang memposting beberapa tokoh-tokoh hebat yang menurutnya layak dijadikan panutan ataupun contoh masa depan yang ingin ia titi. Tentu beberapa tokoh yang diidolakan temen gw ini juga ada salah satu yang menjadi “inspirasi” gw. Mulai dari tokoh politik, atlet bola, filantropi, influencer ikoy2, hingga tokoh kemanusiaan yang layak dijadikan “inspirasi” untuk figur di hidup gw. “Btw, Fid kenapa kok di atas sering memberi tanda kutip pada kata “Inspirasi”? Atau kenapa kok hanya dijadikan inspirasi, bukan idola?”.
Ok, jadi begini, gw bakal kasih pandangan kebenaran yang menurut gw sering luput dari pandangan manusia era modern sekarang. Dalam hidup ini tentu kita sebagai manusia memiliki jumlah waktu yang sama dalam menikmati kehidupan sehari-hari. Mereka yang beraktifitas dalam 24 jam saat ini di Malang, Indonesia, pasti akan sama dengan mereka yang beraktifitas demikian baikpun itu di ujung dunia atau kutub utara. Jelas dalam perihal jatah waktu, ini merupakan “kebenaran universal” pertama yang ingin gw sampaikan. Ok, lanjut!
Lantas, apa yang membedakan para tokoh besar dan para fansnya? Bagi gw jawabannya sederhana, yaitu “The Art of Delivery” mereka dalam menghabiskan waktu. Semua orang mampu menduplikasi ide bisnis, strategy, gagasan, ataupun konsep itu sendiri. Tapi tidak semua orang mampu mengeksekusi konsep tersebut dengan sempurna. Kenapa? Karna perihal eksekusi, tentu selalu ada seni yang terlibat di dalamnya. Baik kemampuan ketahanan fisik yang dimiliki, kelihaian retorika dan wibawa yang dimiliki, serta ciri khas intelektual pada pribadi tertentu.
Jika dalam dunia bola basket kita sudah pasti kenal dengan siapa itu “Lebron James”. Seorang atlet basket hebat yang sekarang menjadi Brand Ambassador brand Nike yang memiliki banyak fans di Amerika. Jika di dalam negeri mungkin kita pernah mengenal tokoh politik kharismatik bapak Soekarno, seorang Proklamator bangsa yang mana wibawanya dalam berpidato mampu mengagitasi pergerakan ribuan rakyat yang mendengarnya.
Perlu kita akui, ketiga tokoh tersebut adalah manusia yang memiliki jatah waktu yang sama dengan kita manusia pada umumnya. Namun, dari ketiga tokoh tersebut tidak melakukan hal yang biasa dilakukan manusia pada umumnya. Lebron James atau biasa dijuluki King James pada saat proses karantina ia sering dikritik oleh rekannya karna berlatih seperti orang gila. Meski usianya sudah 35 tahun, tapi ia tetap workout 4-5 kali dalam seminggu. Berpindah pada kelihaian retorika serta orasi Soekarno. Di antara tokoh-tokoh hebat teras istana waktu itu, tidak ada yang mampu menggerakkan ribuat rakyat untuk melawan Belanda selain seorang Soekarno. Itulah mengapa saat ini banyak orang yang mencoba meniru gaya pidato Soekarno, namun tidak ada satupun yang bisa seperti Soekarno.
Hal mendasar yang harus digaris bawahi, “Seseorang tidak akan menjadi besar jika ia menjadi orang lain”. Segala bentuk perjuangan yang dilakukan masing-masing orang tentu memiliki seni yang berbeda. Bahwa Lebron James menjadi besar karna memang postur serta pola latihan yang ia jalani tidak umum sehingga atlet lain cukup sulit menyaingi kapasitas dirinya. Bahwa Soekarno yang mana masa mudanya memang rajin membaca buku sehingga pengetahuannya luas, serta ditambah dirinya memiliki seorang mentor dan dikader langsung oleh Bapak Ideologi bangsa HOS. Tjokro Aminoto. Tentu proses yang ia jalani ini akan berpengaruh dibandingkan mereka yang tidak memiliki mentor atau belajar secara otodidak. Itulah beberapa hal yang menjadi dasar kenapa seseorang mampu menjadi besar dan “tidak umum” bagi orang lain. Karna pengasahan dirinya yang juga tidak umum, sehingga mampu menampilkan seni yang berbeda dalam bertindak dari manusia pada umumnya.
Kembali lagi pada pembahasan “inspirasi”. Kenapa gw lebih memilih sikap menginspirasi dan kemudian bukan mengidolakan para tokoh tersebut. Karna kata “mengidolakan” ini sama saja akan membatasi alam bawah sadar kita untuk menjadi lebih dari tokoh idola kita. Bahkan yang lebih ekstrem, orang-orang yang terlalu berlebihan mengidolakan tokoh, maka ia akan rawan tidak akan mampu bersikap objektif terhadap tokoh tersebut. Hal itu yang sering gw temukan bagi mereka pengidola artis K-Pop ataupun para fans artis-artis eropa lainnya. Bagi gw yang harus gw idolakan ialah diri gw sendiri, bukan orang lain. Segala bentuk pencapaian orang lain hanya menjadi inspirasi gw untuk bagaimana bisa menambah nilai seni, strategy, serta eksekusi untuk gw supaya bisa menjadi versi terbaik diri gw di masa depan. Kita bisa saja meniru konsep dan cara orang lain, tapi kita harus berupaya menjadi diri sendiri dalam hal eksekusi. Hal ini akan menambah ciri khas, serta semakin memudahkan orang lain dalam mengenal diri kita yang asli, bukan orang lain yang ada di dalam diri kita sendiri. Dan ini merupakan kebenaran universal kedua yg gw sampaikan di blog ini.
Jadi gimana, apa kalian setuju dengan pendapat gw di atas? Atau ada pendapat lain? Komen di bawah ya! Nanti bakal gw bales dan kita diskusi kecil disana!
Komentar
Posting Komentar