Apresiasi Dan Ironi Gw Terhadap Dunia Pergerakan Mahasiswa Indonesia
Dewasa ini kita dihangatkan oleh media tentang gelombang protes mahasiswa yang menuntut akan kinerja pemerintah, terutama DPR. Pada akhir masa jabatannya inilah mereka dianggap telah berbuat ulah. Perancangan pasal pasal yang dianggap ngawur dan tidak substansial telah mampu memancing amarah para mahasiswa. Hal yang kontras menjadi sorotan mereka adalah terkait dengan hasil RKUHP dan RUU KPK, yang dalam hal ini dianggap merugikan bagi masa depan generasi bangsa. Hasil kinerja DPR atas RKUHP dan RUU KPK, dianggap beberapa pasal yang mereka buat tidak mendesak untuk disahkan atas kondisi bangsa. Kaum intelektual menganggap pasal-pasal dalam rancangan Undang-Undang tersebut sangat kontroversial dan bertentangan dengan arah reformasi. Namun dalam hal ini penulis tidak akan membahas apa substansi dalam Undang Undang tersebut, akan tetapi lebih menyoroti bara api semangat para Mahasiswa dalam pergerakan aksi selama seminggu terakhir ini.
Sesuai dengan penelusuran penulis, tidak banyak yang tahu ternyata gerakan ini dimulai dari beberapa kampus yang berada di kota pelajar Yogyakarta. Beberapa diantaranya adalah kampus Universitas Gadjah Mada, Sanatadharma, Atmajaya, dan Universitas Negeri Yogyakarta adalah api api kecil yang mampu menyulut bara api besar bagi teman teman Mahasiswa seluruh Indonesia. Gerakan hastag #GejayanMemanggil di sosial media ternyata mampu menggerakkan sensitivitas kemanusiaan para mahasiswa. 22 September sekitar pukul 18.00 adalah pertama kali hastag tersebut dimunculkan dalam ruang social media Facebook/Instagram milik akun instagram @gejayanmemanggil. Namun siapa sangka, sejak selesai magrib hastag dimunculkan, seiring dengan selang waktu berikutnya ternyata telah mampu menggerakkan hampir seluruh kampus di Indonesia untuk ikut mengeluarkan ajakan aksi turun ke jalan dengan hastag dan seruan yang hampir sama. Narasi "Perkuliahan dipindahkan di depan gedung DPR" banyak bertebaran di tiap sudut sosial media. Beberapa kampus di Kota Malang mengeluarkan hastag #DPRDMalangMemanggil, Jakarta yang menggelorakan hastag #SenayanMemanggil, dan kota kota lainnya mengagitasi dengan hastag dan seruan yang hampir sama. Bukan main main, sambutan hangat para mahasiswa malam itu cukup membuat aparat gentar dan langsung berkonsolidasi untuk siaga menyambut aksi para mahasiswa.
Tampilan hastag #GejayanMemanggil ternyata telah mampu menggerakkan sensitivitas manusia khususnya para mahasiswa melakukan aksi untuk turun ke jalan menyampaikan pendapat bersama. Di luar dugaan saya, aksi di Yogyakarta saat itu cukup mendapat masa yang banyak. Padahal publikasinya hanya dalam waktu tidak ada 1x24 jam. Namun lebih dari 5000 mahasiswa telah tergerak untuk berpartisipasi melakukan aksi penyampaian pendapat bersama kawan kawan mahasiswa seluruh kampus baik PTN/PTS yang ada di Yogyakarta. Entah kapan konsolidasi dilakukan oleh mereka. Namun tampilan pamflet tersebut mampu memanggil hadir ribuan massa dari khalangan mahasiswa keesokan harinya. Melihat hal tersebut, tentu ini adalah angin segar bagi dunia pergerakan mahasiswa. Karena peristiwa semacam ini tepat 20 tahun yang lalu pernah terjadi, dan saya sendiri pun cukup apresiatif dengan semangat solidaritas teman teman mahasiswa.
Tidak dipungkiri, Generasi Z adalah faktor utama bagi maraknya aksi unjuk rasa dalam dunia pergerakan mahasiswa. Generasi Z adalah mereka yang lahir pada tahun 1996-2010. Yang mana peran mereka ini cukup mampu memicu pergerakan masa. Munculnya para aktivis millenials inilah ternyata mampu menjadi lecutan besar para mahasiswa dalam mengawal arah reformasi bangsa. Ciri ciri generasi Z ternyata berbeda jauh dengan generasi para aktivis 98. Sifatnya yang sangat dinamis, beragam dan mudah tersentuh nuraninya jika melihat kondisi sosial di sekitarnya. Beberapa diantaranya adalah
- Tidak menghendaki terhadap segala perubahan
Sikap para generasi Z cenderung gegabah dan gagap terhadap segala perubahan baru. Rata rata diantara mereka cenderung bergerak atas apa yang sedang diminati banyak khalayak. Sehingga apa yang menurutnya adalah tren, maka sudah dapat dipastikan mereka akan mengikutinya.
- Menyukai Sesuatu yang Kekinian Dengan Spontan
(Coba simak narasi apa yang yang disampaikan pada pamflet gambar di atas)
Entah apa maksud narasi yang ingin dibangun oleh mereka dalam ruang demonstrasi. Tetapi cukup jelas bahwa demonstrasi dengan identitas "mahasiswa" adalah representasi aksi yang dilakukan atas dasar ekspressi "intelektual" pribadi.
Karena aksi intelektual maka sudah barang tentu gerakan turun ke jalan (parelemen jalanan) harus melalui kajian yang matang, analisa yang luas, diskusi yang dalam, dan pembacaan yang jelas. Sehingga poin point yang telah didiskusikan akan tersampaikan dengan jelas di panca indera penguasa.
Tetapi, jika kita mengamati dari narasi narasi yang banyak dibangun oleh mereka, saya pribadi dari penulis menjadi absurd memahami para mahasiswa ini. Maka pertanyaan yang muncul dari hati, apakah mereka memahami betul apa yg mereka perjuang dan suarakan?
Dari salah satu karya buku bacaan tokoh sosiolog, dalam buku sosiologinya yang berjudul "THE CROWD" sebagai bahan analisa aksi massa.
Dalam buku tersebut, Gustave Lebon menyebutkan ada 3 tipe kecenderungan manusia yang mirip dengan kawanan Binatang.
Pertama, Kecenderungan Manusia seperti kawanan kuda (saya menyebutnya : kawanan ayam/bebek). Yakni kawanan ayam/bebek yang “PATUH” pada tuannya dikala hendak dimasukkan dalam kandang. Barang tentu, bagi manusia tipe ayam ini, merasa bahwa dengan dikandangkan maka keamanan mereka terjamin.
Kedua, tipe manusia seperti gerombolan ayam/bebek yang “TIDAK PATUH” saat dikandangkan oleh tuannya. Bagi manusia tipe ini, patuh kepada tuan untuk masuk kandang sama dengan membatasi ruang gerak bebasnya.
Ketiga, adalah tipe yang dapat dianalisa berdasarkan foto foto pamflet tuntutan absurd yang banyak beredar di social media.
Manusia yang berada pada tipe ini, adalah mamusia seperti kawanan ayam/bebek yang “ikut-ikutan" saat dikandangkan. Mereka ikut kemana saja kawanan mereka, biasanya mereka ikut pada kawanan yg lebih banyak kuantitasnya. Jika kelompok besar masuk kandang, mereka pun ikut masuk kandang, begitupun sebaliknya.
Dari pamflet pamflet absurd yg beredar tersebut dapat kita identifikasikan bahwa mereka adalah kelompok manusia tipe tiga. Yaitu tipe manusia yang cenderung ikut ikutan. Membentangkan tulisan "nyeleneh" sekedar untuk "show up" story. Ataupun hanya menjadikan aksi sebagai media menunjukkan eksistensi.
Saya pribadi sebagai penulis telah banyak mengikuti kajian di beberapa tempat tentang persoalan persoalan yg sedang terjadi di negeri ini. Namun yang menjadi miris, beberapa tempat diskusi tersebut saya menjumpai tidak lebih dari 50 peserta yang hadir, anggap saja 50 yang hadir, 25 diantaranya sibuk ngobrol dengan teman sebangku antau dengan gawainya sendiri sendiri.
Ini menujukkan bahwa, sesungguhnya banyak yang tak memiliki "cukup amunisi" intelektual untuk turun ke jalan, sebab ruang-ruang dialektika sepi dari sekelompok generasi dengan status mahasiswa. Maka sangat berbeda jauh jika dibandingkan dengan senior kita saat aksi besar 98. Mereka yang tidak terlena dengan fasilitas lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menambah kualitas. Dengan berliterasi dan berdiskusi adalah kebiasaan mereka sebelum memutuskan untuk turun aksi.
Hari ini kita sulit menemukan "kerumunan" mahasiswa dalam berdialektika soal probelmatika bangsa seperi mereka (aktivis 98). Ada kerumunan di warung warung kopi, tapi bukan "kerumunan intelektual". Seruputan kopi dan aneka minuman dihiasi asap rokok bak terbangan awan awan putih di siang hari. Entah sekedar nebeng "wifi" atau memang niat ngopi (ngobrol sampe pagi), pulang subuh langsung tidur, bangun siang mikir nanti malam ngopi dimana lagi. Mungkin akan terus begitu sampai malaikat Isrofil open recruitment panitia hari kiamat nanti.
Sekretariat organisasi mahasiswa cenderung sepi, intelektualpun sepi aktivitas diskusi. Bukannya tidak ada rencana kerja organisasi, tapi memang para anggota nya sibuk sendiri. Itu hanya sebagian besar kaum intelektual kampus, masih ada sebagian kecil yang tetap concern sebagai aktivis sejati. Buku, pulpen, diskusi tetap di sisi bahkan dibawa saat mimpi.
Sebagian kecil tersebut mencoba membangum budaya mahasiswa berliterasi dan berdiskusi yang rupanya mati suri. Sebagian kecil ini tak kalah cerdas. Mereka melakukan strategi jemput bola untuk membangun kembali budaya mahasiswa dan mahasiswi. Mengetahui bahwa sebagian besar tersebut doyan ngopi di cafe sampe pagi. Ruang diskusipun diadakan di warung kopi. Apa yang terjadi? Ternyata masih sepi? Hahaha sudah sudah, ini hanya opini pribadi. Selebihnya marilah kita sebagai mahasiswa saling intropeksi diri. Demi kebaikan negeri, lawanlah penguasa dengan literasi. Agar ketika turun aksi kaum intelektual tidak gampang digiring opini. Seperti barisan bebek yang ikut perintah sana ikut perintah sini.
Sesuai dengan sumpahnya yaitu, "Bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan. Berbangsa satu, bangsa yang gandrung akan keadilan. Berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan". September ini, kelompok yang dianggap sebagai agent of change, agent of society control, dan mitra kritis pemerintah, telah benar benar mengimplementasikan sumpah dan perannya. Ini adalah angin segar bagi dunia pergerakan dan semakin kritisnya para mahasiswa akan kondisi bangsa. Harus disambut dengan baik dan penuh semangat bagi kita seorang mahasiswa yang telah diberi mandat sebagai kaum intelektual yang terus merawat akal sehat agar bangsa ini tetap terjaga sesuai dengan arah reformasinya. Semoga tidak berhenti di bulan ini, dan akan terus terawat selama bangsa ini masih menyandang gelar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seperti apa yang pernah dikatakan Prof. Bj. Habibie "Hanya anak bangsa sendirilah yang diandalkan untuk membangun Indonesia. Tidak mungkin kita mengharapkan bantuan bangsa lain". Narasi yang disampaikan Prof. Bj. Habibie adalah benar adanya dan harus menjadi renungan kita bersama. Sebab suatu bangsa yang tidak pernah gelisah dan selalu merasa baik baik saja, adalah pertanda besar bahwa bangsa itu tidak akan pernah maju. Sebab kritisnya mahasiswa terhadap kondisi bangsa adalah suatu pertanda bahwa negara ini masih memiliki pemuda yang selalu gelisah memikirkan arah kemajuan bangsanya. Sehingga output dari kegelisahan mereka adalah ide ide dan gagasan sebagai jawaban progressif penyelesaian polemik bangsa.
Maka dengan ini marilah kita sebagai mahasiswa untuk tetap bergerak bersama membangun negeri
Tetap mengawal arah reformasi Ibu pertiwi dari korupsi
Dan perjuangan ini harus berlanjut dengan semangat berapi api
Hingga Indonesia benar benar menjadi bangsa besar dan dunia mengagumi.
Hingga Indonesia benar benar menjadi bangsa besar dan dunia mengagumi.
Panjang umur perjuangan!
Panjang umur keadilan!
Panjang umur kebenaran!
Panjang umur kebenaran!
Dan panjang umur untuk hal hal baik!
Hidup mahasiswa!
Hidup Rakyat Indonesia!




Komentar
Posting Komentar